Tahu merupakan protein nabati yang dibuat dari olahan kacang kedelai yang sangat diminati oleh masyarakat Indonesia. Selain rasanya yang gurih dan enak, tahu juga memiliki gizi yang tinggi. Oleh sebab itu tak heran apabila bisnis Home Industri Tahu menjadikan ladang usaha yang menjanjikan karena selalu diminati di semua kalangan, baik kalangan bawah, menengah sampai kalangan atas. Seperti halnya usaha yang digeluti oleh Pak Tubi yang ada di RT 03 RW 01 dsn. Karangtengah ds. Pulosari selalu tak pernah sepi orderan. Home industri ini sudah beliau geluti sejak tahun 1982 hingga sekarang masih tetap berproduktif dan malah semakin banyak. Menurut beliau, usaha ini merupakan usaha turun temurun dari keturunan orangtuanya dulu.

Per hari, Pak Tubi bisa menghabiskan sekitar 50kg kedelai bahkan bisa lebih. “Apalagi kalau ada pesanan untuk hajatan atau acara gitu bisa sampai 70kg” Kata Pak Tubi. Untuk saat ini Pak Tubi mempunyai 4 tenaga kerja untuk mengolah tahu. Untuk pemasaran, Pak Tubi sudah memiliki pelanggan hingga ratusan orang. Biasanya Pak Tubi tinggal mengantarkannya ke pelanggan-pelanggan untuk dijual kembali.

Galeri

Berikut ini adalah cara pembuatan tahu :

  1. Kedelai ditampi untuk dipilih biji yang besar
  2. dicuci dan direndam dalam tong yang berisi air selama kurang lebih 6 jam
  3. selanjutnya kedelai dicuci lagi selama setengah jam
  4. Kedelai dibagi-bagi dan diletakkan di dalam wadah, yang terbuat dari bambu atau plastik.
  5. Kedelai digiling sampai halus, dan butir kedelai mengalir ke dalam tong penampung.
  6. Butir kedelai langsung direbus sampai mendidih di dalam wajan berukuran besar.
  7. Bubur kedelai lalu dipindahkan dari wajan ke bak atau tong untuk disaring dengan kain mori kasar yang telah diletakkan pada sangkar bambu. Agar semua sari dalam bubur kedelai tersaring semua, pada kain itu diletakkan sebuah papan kayu dan seseorang naik di atasnya dan menggoyang-goyangnya. Limbah penyaringan, yang disebut ampas tahu, diperas lagi dengan menyiram air dingin, sampai tidak mengandung sari lagi. Penyaringan dilakukan berkali-kali hingga bubur kedelai habis.
  8. Air saringan yang tertampung dalam tong warna kuning atau putih dicampur dengan asam cuka agar menggumpal. Selain asam cuka, dapat juga ditambahkan air kelapa, atau cairan whey (air sari tahu bila tahu telah menggumpal) yang telah dieramkan, atau bubuk batu tahu (sulfat kapur).
  9. Air asam dipisahkan dari gumpalan atau jonjot putih dan disimpan, sebab masih dapat digunakan lagi. Gumpalan atau jonjot tahu yang mulai mengendap dituangkan dalam kotak berukuran misalnya 50 x 60 cm2 dan dialasi kain belacu. Adonan tahu kotak dikempa selama satu menit, sehingga air yang masih tercampur dalam adonan tahu itu terperas habis. Adonan tahu berbentuk kotak yang sudah padat dipotong-potong, misalnya dengan ukuran 6 x 4 cm2. Tahu pun siap dijual.

Bagaimana reaksi anda mengenai artikel ini ?

Tinggalkan Komentar

Komentar anda tidak akan dipublikasikan, jika formulir yang ditandai * tidak diisi.